Arzifa
1
"Sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan jangan Rindu".
"Kenapa ?" Kutanya.
"Berat", jawab Dilan. "Kau gak akan kuat. Biar aku saja".
"Sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan jangan Rindu".
"Kenapa ?" Kutanya.
"Berat", jawab Dilan. "Kau gak akan kuat. Biar aku saja".
Malam
ini, Zifa tengah fokus membaca novel best seller karya Pidi
Baiq di atas tempat tidurnya. Tepat pukul 20.06 WIB, suara ponsel bernada
dering Opening besutan Apple kontan mematahkan guratan senyum yang
baru saja terbentuk di bibirnya. Dia bergegas melenggangkan kaki berjalan
menuju meja yang terletak di pojok kamar kost untuk mengambil ponselnya.
Nomor
yang tidak dia kenali tampil di layar ponselnya saat itu. Zifa sempat ragu
untuk merespon panggilan tersebut atau tidak. Dia takut akan modus penipuan
yang sedang marak terjadi belakangan ini. Setelah berdering cukup lama,
akhirnya dengan terpaksa dia mengangkat telepon tersebut, barangkali penting.
"Assalamu'alaikum"
Sambil
mengernyitkan dahi, Zifa berusaha mengingat-ingat suara khas yang sepertinya
pernah ia kenal sebelumnya. Dia menjawab dengan nada yang agak ragu "Ehmm
... Wa'alaikum salam". Sapaan ramah seorang lelaki pun langsung menyambut
ucapannya, "Pripun kabare mbakyu?"
Mendengar
suara itu, Zifa terkejut. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menahannya
cukup lama sambil membelalakkan matanya. Suara yang sangat dia kenal hadir
kembali menyapanya setelah sekian lama tidak ia dengar di telinga. Jantungnya
langsung berdegup kencang saat itu. "Dia? Apakah ini dia?" batinnya.
Zifa
hampir tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun setelah mendengar suara di
balik telepon itu. Matanya sekejab berbinar setelah mendengar ucapan "mbakyu"
yang terlontar dari mulut sang penelpon. Jelas dia sangat hafal siapa yang
menjulukinya dengan panggilan seperti itu. "Mbakyu", sapaan
khas orang Jawa untuk seorang wanita. Jika menilik ke belakang, sapaan
berbahasa Jawa itu sangat melekat di telinganya. Mengingat bahasa Jawa
merupakan bahasa pengantar mereka di saat awal perkenalan dulu.
Sedikit
banyaknya Zifa mengerti tentang bahasa Jawa. Walaupun dirinya lahir di tanah
Sumatera dan dalam kehidupan sehari-harinya dia berbahasa Indonesia, namun ibu
dan bapaknya adalah asli keturunan Jawa yang bertransmigrasi ke tanah Sumatera
sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Bagi orang yang belum mengenal dirinya
pun pasti dapat dengan mudah mengira jika Zifa adalah orang Jawa. Hal tersebut
dapat terlihat dari sikap Zifa yang terkenal sangat kalem dan kemayu, tutur
katanya yang lembut, dan parasnya yang manis khas wanita Jawa. Dia pun
menyadari, tinggal di tanah Sumatera dalam jangka waktu yang cukup lama, belum
mampu menghilangkan jiwa-jiwa Jawa yang melekat pada dirinya.
Zifa
bingung harus merespon apa. Dia bingung harus senang atau sedih atas kehadiran
kembali lelaki itu di dalam hidupnya. "Ini siapa ya?". Zifa bersikap
seolah tidak mengenali suara yang sebenarnya sangat familiar di telingannya
itu.
"Serius
kamu gak tau siapa aku? Aku Izhar, Zif, temanmu di Pare dulu".
"Apa
kabar Zif? Ternyata kamu masih pakai nomor ini ya ?!"
Benar,
iya benar, dia Izhar. Dia hadir kembali. Seorang lelaki yang sebenarnya sudah
sangat lama dinantikan kehadirannya. Setelah lama menghilang, tanpa kabar
sedikitpun, dia datang kembali seakan membawa memori-memori di masa lalu. Zifa
berusaha sebiasa mungkin menanggapinya, namun tetap tidak bisa.
"Alhamdulillah baik, hmmm k-kamu apa kabar?", jawab Zifa dan kembali
bertanya dengan nada yang bergetar.
"Aku
alhamdulillah baik juga, Zif. Aku denger sekarang kamu udah kerja di Jakarta
ya, ngajar?"
Masih
dalam perasaan yang sama, jantung Zifa yang berdegub kencang saat itu belum
juga mereda. Sejenak diam, Zifa sempat bertanya-tanya dalam hati, dari mana
Izhar tahu jika dirinya sudah bekerja di Jakarta, Apakah Izhar selama ini
diam-diam mengamatinya.
"Hallo,
Zif?!"
Suara
Izhar menyadarkannya dari lamunan singkat, "Ehh, sory sory, iya
zhar".
"Aku
cuma mau bilang, aku juga seminggu ini udah mulai kerja di Jakarta".
"Hah?
Dia kerja di Jakarta, bukannya dia masih kuliah ya. Bukannya dia masih semester
4 waktu itu. Kenapa sekarang udah kerja", batinnya.
"Bolehkan
sekali waktu kita meet up?"
Ingin
rasanya Zifa melontarkan banyak pertanyaan yang sedang menghinggapi pikirannya
saat itu, namun dia mengurungkan niatnya. "Ummm I-iya Zhar, boleh, t-tapi
kamu tau kan gimana aku?", jawab Zifa seusai menggigit jari telunjuknya
sangking kikuknya menghadapi lelaki itu.
"Iya, iya, aku
tau, kamu boleh kok bawa temen kamu".
Izhar
sudah sangat hafal bagaimana sifat Zifa. Sifat inilah yang membuat Izhar kagum
akan sosoknya. Zifa masih setia dalam keistiqomahannya bahkan sampai detik ini.
Seakan flashback kepada kenangan di masa lalu, Izhar masih
diliputi rasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan kepada Zifa, dulu,
setahun yang lalu.
---o0o---
3
Seusai menerima telepon dari Izhar, perasaan kalut menghampirinya. Semua rasa campur aduk bersatu padu di pikirannya. "Sudah cukup lama dia menggantungkan harapan itu, sampai aku tersadar bahwa hal terpahit dalam hidup adalah menggantungkan harapan kepada manusia. Setelah aku benar-benar melupakannya, tiba-tiba dia datang kembali menyapaku, aku bingung harus berbuat apa, apakah dia benar-benar melakukan apa yang sudah dia isyaratkan dulu, kepadaku ?"
Seusai menerima telepon dari Izhar, perasaan kalut menghampirinya. Semua rasa campur aduk bersatu padu di pikirannya. "Sudah cukup lama dia menggantungkan harapan itu, sampai aku tersadar bahwa hal terpahit dalam hidup adalah menggantungkan harapan kepada manusia. Setelah aku benar-benar melupakannya, tiba-tiba dia datang kembali menyapaku, aku bingung harus berbuat apa, apakah dia benar-benar melakukan apa yang sudah dia isyaratkan dulu, kepadaku ?"
Demi
mengalihkan pikirannya terhadap Izhar, Zifa mulai memainkan jari-jari tangannya
di atas sebuah ponsel bercase ungu miliknya. Sembari menopangkan
badannya di atas kasur empuk berukuran sedang, matanya menatap
datar layar ponsel di tangannya. Secara random, dia membuka
beberapa aplikasi yang ada. Tanpa sengaja, dia membuka folder galerinya saat
itu kemudian melihat semua foto yang ada disana. Hukum alam memang, seolah
tidak boleh mengalihkan pikirannya dari Izhar, Zifa malah di hadapkan dengan
foto-foto kenangan masa lalu bersama Izhar di tempat dimana mereka
dipertemukan. Tempat yang sangat istimewa yang menyimpan banyak kenangan
bersama Izhar. Bukan hanya bersama Izhar saja, tapi bersama teman-temannya
juga. Melihat foto-foto tersebut, Zifa seakan teringat akan pengalamannya saat
berkelana di tempat itu setahun yang lalu. Teringat akan pengalamannya yang
sungguh mengesankan disana.
Zifa
mulai bernostalgia, menghayati foto-foto tersebut dengan seksama, foto-foto
hasil jepretan kamera yang berlokasi di ujung timur pulau Jawa. Pulau yang
sangat bersejarah bagi dirinya, dimana dia sangat sering menginjakkan kakinya
di pulau tersebut demi untuk mencari pengalaman baru. Terkhusus untuk kampung
itu, Zifa berusaha mengenang kembali serangkaian cerita di kampung itu. Kampung
yang mampu menggoreskan cerita, baik suka maupun duka, tapi kebanyakan sukanya.
Kampung yang membuat hari-harinya penuh bahagia selama sebulan tinggal disana.
Kampung yang mampu membuatnya gagal move on hingga
berbulan-bulan, bertahun-tahun lamanya. Kampung sejuta kenangan, sejuta cinta,
cita, dan cerita.
KAMPUNG INGGRIS namanya
...
---o0o---
4
Di depan ponsel kesayangannya, Zifa hanyut dalam nostalgia, foto-foto yang terkenang disana seakan membawanya kembali ke masa itu, masa dimana dia pernah melalui banyak canda dan tawa, tangisan dan air mata.
Di depan ponsel kesayangannya, Zifa hanyut dalam nostalgia, foto-foto yang terkenang disana seakan membawanya kembali ke masa itu, masa dimana dia pernah melalui banyak canda dan tawa, tangisan dan air mata.
Bantal
yang menyangga bagian kepalanya, terasa basah saat itu. Tanpa sengaja, air mata
mengalir melalui pipi chubby-nya. Zifa rindu akan kebersamaan
bersama teman-temannya, terlebih lagi rindu dengan Izhar. Lelaki yang masih
menjadi penantiannya, yang pada akhir perpisahan mereka, mengisyaratkan kepada
dirinya untuk menunggu sampai Allah mempertemukannya kembali jika Allah memang
menjodohkan mereka. Sejenak dia bangkit dari posisi tidurnya, mengusap air mata
yang membasahi wajah manisnya.
"Hefffff
..."
Hembusan angin keluar dari lubang hidungnya seusai menarik nafas dalam-dalam. Zifa terharu atas apa yang telah Allah hadiahkan untuknya, pengalaman-pengalaman indah dan berharga yang takkan terlupakan. Dia merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia.
Hembusan angin keluar dari lubang hidungnya seusai menarik nafas dalam-dalam. Zifa terharu atas apa yang telah Allah hadiahkan untuknya, pengalaman-pengalaman indah dan berharga yang takkan terlupakan. Dia merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia.
"Ya
Allah, terimakasih atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku hingga
hari ini, terimakasih telah memberikan skenario indah di dalam hidupku,
terimakasih atas pengalaman-pengalaman itu, terimakasih sudah mempertemukanku
dengan orang-orang seperti mereka, yang sempat memberikan kebahagian walau
sebulan saja, terimakasih ya Allah, aku bersyukur atas semuanya", ucap
Zifa dalam hati.
Sembari
duduk di atas kasurnya, dia menoleh ke sebuah meja kecil tepat di samping
tempat tidurnya. Di atas meja tersebut terdapat sebuah buku bersampul biru
bertuliskan inisial dari kepanjangan namanya, B A S -Bunga Arzifa Sativa-. Buku
diary yang selalu menjadi saksi atas segala perasaan diri yang selalu
menghampiri. Entah itu soal kesedihan, kegundahan, ataupun kebahagiaannya.
"Dear
diary ... "
Dengan
perlahan, Zifa mencoba memainkan jari-jari tangannya bersama pena bertinta
hitam di atas kertas, di salah satu halaman di buku tersebut. Dia mulai
merangkai kata demi kata, menuliskan kenangan indah yang tercipta di kampung
itu, di Kampung Inggris, kampung dengan sejuta kisah mulai dari kisah
persahabatan hingga percintaannya.
Planning
Whatsapp Group - Girls (4)
......................................................................................................................................................
Risa :
"cuy, kayaknya kita gak bisa berangkat bareng, gue sma zifa nyusul ya"
Risa :
"cuy, kayaknya kita gak bisa berangkat bareng, gue sma zifa nyusul ya"
Apuy :
"Lah kenapa sa?"
"Lah kenapa sa?"
Me :
"Iya puy, aku gak bisa kalo tanggal 18 berangkatnya, ternyata tanggal 19 ada acara di rumah pakde ku, aku udah diskusiin sama risa, kemungkinan kita berangkatnya tgl 20"
"Iya puy, aku gak bisa kalo tanggal 18 berangkatnya, ternyata tanggal 19 ada acara di rumah pakde ku, aku udah diskusiin sama risa, kemungkinan kita berangkatnya tgl 20"
Risa :
"Iya, kita ketemuan aja ya nanti di malang, wkwk"
"Iya, kita ketemuan aja ya nanti di malang, wkwk"
Apuy :
"Yah, kok sedih sih, gue juga gak bisa kalo di undur, soalnya udah bilang sama om tante berangkatnya tanggal 18, kan resepsi sepupu gue tanggal 20 itu"
"Yah, kok sedih sih, gue juga gak bisa kalo di undur, soalnya udah bilang sama om tante berangkatnya tanggal 18, kan resepsi sepupu gue tanggal 20 itu"
Me :
"Maapin aku yah, mendadak gini ngasih kabarnya"
"Maapin aku yah, mendadak gini ngasih kabarnya"
.........
.........
.........
Tita :
"Ya ampun udah banyak banget chatnya, maaf telat pemirsa"
......................................................................................................................................................
"Ya ampun udah banyak banget chatnya, maaf telat pemirsa"
......................................................................................................................................................
Risa,
Putri (Apuy), dan Tita, tiga orang wanita yang menjadi teman akrab Zifa semasa
penelitiannya. Mereka berempat kuliah di jurusan yang sama dan semakin akrab
karena dihadapkan dengan dosen pembimbing yang sama juga. November-April adalah
bulan-bulan yang sangat menguras tenaga, jiwa, dan pikiran mereka dalam
menyelesaikan penelitian sekaligus skripsinya. Bulan-bulan dimana penuh dengan
revisi, revisi, dan revisi. Setelah berjuang sekuat tenaga, akhirnya mereka
dapat menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya dan kemudian sidang -ujian
komprehensif- di tanggal yang hampir berdekatan.
Sebulan
lamanya mereka menunggu untuk di wisuda. Di waktu tersebut, mereka disibukkan
dengan segala urusan persiapan wisuda, mulai dari pendaftaran wisuda yang
berbelit-belit urusannya baik di jurusan, fakultas, maupun universitas, hingga
persiapan perlengkapan wisuda yang sama riweuhnya, seperti memesan
kebaya, booking tempat make-up, tempat foto,
meminjam toga, dan lain sebagainya.
Di
tengah-tengah kesibukan tersebut, mereka menyempatkan diri menyusun rencana,
merealisasikan sebuah keinginan yang tercetus pada saat penelitian, pergi ke
Jawa Timur bersama-sama. Zifa dan Risa yang memang dari semester 5 sudah
berniat untuk belajar di Kampung Inggris setelah wisuda, tidak sengaja
mengobrol dengan Apuy yang memang berkeinginan untuk bekerja di Malang setelah
wisuda juga. Jarak yang lumayan dekat antara Malang dan Kediri memutuskan
mereka untuk pergi bersama-sama.
---o0o---
Maret, 2017
Kala
itu, tepatnya saat jam makan siang, Risa dan Apuy duduk di ruang asisten di
Laboratorium Botani tempat mereka melakukan penelitian. Sebagai mahasiswi
semester akhir, selain melakukan penelitian dan mengerjakan skripsinya, mereka
juga ditugaskan untuk menjadi asisten dosen salah satu praktikum mata kuliah
yang berhubungan dengan skripsi mereka, begitupun dengan Zifa dan Tita.
"Eh,
gue sama Zifa punya rencana ke Kampung Inggris loh abis wisuda", ucap Risa
seusai mengunyah roti sandwich yang dibelinya saat akan ke
kampus tadi pagi.
"Wah,
serius ? Kampung Inggris yang di Kediri itu kan ?" jawab Apuy terkejut dan
sejenak berhenti mengerjakan skripsi di laptop birunya. "Gue juga pengen
loh sa, tapi gimana, gak punya duit", lanjutnya sambil menatap Risa dengan
wajah yang memelas.
"Iya
puy, kita emang udah lama punya rencana ini, kalau gak salah dari semester 5
deh, jadi emang udah nabung dari dulu", jawab Risa.
Sambil
melanjutkan mengerjakan skripsi yang sedang menjadi prioritas utamanya itu,
Apuy memberikan penawaran yang menarik kepada Risa, "Eh, ntar dulu deh,
tapi gue juga ada rencana nyari kerja di Malang loh sa, kan ada om tante gue
disana, jadi gue bisa tinggal sama mereka, hmmm apa kita berangkat bareng aja?
Kan Malang sama Kediri deket tuh, dan kalau dari bandara Juanda mau ke Kediri
pasti lewat Malang kan ? Kalian mampir aja dulu ke Malang, jalan-jalan dulu di
Malang, nanti gue ajak deh keliling-keliling Malang".
Gayung
bersambut, layaknya tengah mendapatkan kabar dari sang mantan kesayangan, Risa
pun merespon heboh perkataan yang terlontar dari bibir Apuy, dengan segera dia
menegak segelas air mineral yang ada di tangannya, mendorong makanan yang masih
tersisa di ujung kerongkongan, kemudian berkata, "wah ide bagus tuh! boleh
banget, gue mau banget puy!", seru Risa. "nanti lah ya gue bilang ke
Zifa, pasti dia mau juga", lanjutnya.
"Oke
siap sa".
---o0o---
"Zif!
Tungguin gue". Terdengar samar-samar suara cempreng Tita memanggil Zifa
yang sepertinya sedang menaiki anak buah tangga.
"Nah
itu dia Zifa!", ucap Risa sambil mengangkat jari telunjuknya ke atas
dengan wajah yang sumringah dan mulut yang menganga.
"Assalamu'alaikum".
Salam
serentak Zifa dan Tita berhasil membuat gaduh seisi ruang asisten saat itu,
apalagi suara cempreng Tita yang tak kalah berisiknya dengan speaker soak.
Mereka masuk ke Laboratorium Botani yang terletak di lantai dua setelah sebelumnya
melewati tangga darurat yang terbuat dari besi, yang jika orang-orang
melaluinya, pasti akan sangat berisik.
"Ta,
lu dicariin bu Cathy tadi, katanya suruh ngadep dia
sekarang!" Ucap Angga yang merupakan teman satu penelitiannya di
Laboratorium Botani. "Iya sono ta, buruan!" Sahut
Risa dan Apuy bersamaan.
Dengan
mimik muka yang tampaknya masih lelah seusai menaiki 20 anak buah tangga, Tita
mengiyakan seruan teman-temannya dan bergegas menuju ruangan bu Cathy yang
terletak di samping ruang asisten.
Sesaat
kemudian, Zifa meletakkan sepatunya di sebuah rak yang terletak di balik ambang
pintu dan hendak menggantikannya dengan sandal. Belum sempat memasukkan jemari
kakinya ke dalam sandal, Risa dengan sigap menarik tangan Zifa dan mengajaknya
untuk duduk di sampingnya bersama Apuy yang masih saja fokus di depan
laptopnya. Dengan semangat dan perasaan yang menggebu-gebu, Risa memberitahu
Zifa tentang hasil pembicaraannya dengan Apuy beberapa menit lalu. Respon Zifa
sangat sesuai dengan ekspektasi, dia mengiyakan ajakan Risa dan Apuy dengan
semangat yang membara.
"Wahhhhhh,
aku juga pengen banget ke Malang lagi, jalan-jalan disana, udah lama banget gak
kesana !", seru Zifa tak kalah hebohnya dengan Risa. Walaupun Zifa sangat
terkenal dengan sifat kalemnya, tapi jika sudah disandingkan dengan Risa, Apuy,
dan Tita, sifat yang mendarah daging tersebut seakan luntur. "gimana kalo
kita semingguan di Malangnya, biar puas gitu", lanjutnya sambil
menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya sehingga menghasilkan sebuah suara.
Zifa
memang sudah dua kali menginjakkan kakinya di daerah tersebut -karena kakak
kandungnya pernah berkuliah di Universitas Negeri Malang. Namun entah apa yang
membuatnya tidak pernah bosan untuk terus kesana. Mungkin karena udara di
Malang yang sangat bersahabat, adem dan menenangkan, atau juga
mungkin karena pemandangannya yang menakjubkan. Apalagi daerah Malang Raya
punya kota wisata yang sangat terkenal dengan suhu dinginnya, Kota Batu
namanya. Zifa sangat suka dengan suhu dingin. Sering kali dia berkhayal jika
berada dalam kondisi tersebut, khayalannya tak jauh-jauh dari musim salju di
Korea Selatan, yang sangat ingin dia merasakan sensasi dinginnya disana.
Sejauh
daerah-daerah di pulau Jawa yang pernah Zifa singgahi, Malang menjadi daerah
nomor satu yang selalu terkenang di hati. Daerah yang selalu membuatnya rindu
berkali-kali, rindu akan makanannya, mulai dari bakso, sempol, dan pentol,
hingga minuman yang menjadi andalannya "Susu Yogurt Ganesha" yang
terletak di seberang alun-alun Batu, rindu akan kehangatan orang-orangnya yang
sangat ramah dengan warga pendatang dan rindu akan wilayahnya yang banyak
ditumbuhi tanaman buah-buahan.
---o0o---
Tita,
wanita bersuara cempreng dan sangat mengidolakan
penyanyi beken Syahrini, yang sedari tadi menemui bu Cathy
akhirnya datang membawa skripsinya yang sudah di koreksi dosen pembimbingnya
itu. Bukannya mengucap salam, dia malah berteriak gembira dan berucap
"Alhamdulillah, revisinya gak banyak-banyak amat, hahaha". Tita lekas
berjalan ke arah rak buku yang ada di sudut labaratorium botani hendak
mengambil beberapa buku acuan.
"Pantes
cepet", sambut Risa. "Eh ajak Tita aja kalo nggak, biar rame",
ucap Risa sambil menatap Zifa dan Apuy dengan ekspresi yang seolah tengah
menemukan ide yang cemerlang.
Tita
yang sedang menggapai buku di bagian rak paling atas, mendengar ucapan Risa
tersebut dan langsung berteriak dengan nada khasnya, "Ajak
kemana sih, wagelaseh gak ngomong-ngomong, beuh parah beuh!"
"Sini
makanya ta, buruan!", seru Zifa.
Tanpa
perlu basa-basi dan tak mau menunggu lama Tita melangkahkan kaki ke tempat
mereka berkumpul, Apuy menyatakan pembicaraan mereka, "Kita mau ke Malang
ta abis wisuda".
Dengan
respon yang sigap, Tita langsung berlari menuju mereka meninggalkan buku-buku
acuan yang belum sempat di ambilnya, "wihhh kalian pada mau ke Malang abis
wisuda ???"
Apuy :
"iya ta, gue mau nyari kerja di Malang dan ternyata Zifa sama Risa mau ke
Kampung Inggris juga terus rencananya bakal main sebentar di Malang sebelum
kursus mulai".
Zifa :
"bener ta, rencananya sih mau berangkat barengan nanti, apa kamu mau ikut
juga ta jalan-jalan di Malang?"
Tita
pun menyatakan keinginannya untuk ikut, katanya sih pengen jalan-jalan di
Malang karena wisata di Malang bagus-bagus. "Wahhh gue mau ikut dong, gue
pengen banget ke Malang dari dulu, disana kan terkenal banget tempat
wisatanya, instragamable juga".
Risa
kontan merespon ucapan Tita. Pukulan lembut mendarat di lengan Tita hingga
membuat tubuhnya terdorong dari posisi semula, "Ah lu mah instagram mele",
ujar Risa kemudian terkekeh.
"Ya
biarin dong", sahut Tita sambil menjulurkan lidahnya "mwekk".
I’m Coming
"Astaghfirullah!"
Teriakan
Zifa berhasil mengacaukan konsentrasi perempuan di sebelahnya yang sedang asyik
bermain game online. "Ih Zifa! Ngagetin deh!", ucapnya sambil menekan
tombol pause yang ada di layar handphone.
Seakan
menunjukkan ekspresi seperti ada sesuatu yang terlupa, Zifa menepuk jidatnya
cukup kencang dan berkeluh kepada teman perempuannya itu, "Risaaaa ...
yah!". Rengekan kecil yang dibuat-buat Zifa membuat Risa semakin
penasaran, "Kenapa Zif?".
"Rok
itemku ketinggalan di atas meja kamar, lupa dimasukin koper tadi, gimana dong
sa?".
Risa
langsung merespon dengan helaan nafas yang cukup panjang seakan menyepelekan
omongan Zifa, "Ah elah Zif, gue kira apa, ya udah gampang, beli lagi aja
nanti di Malang, seru Risa. "Lagian gak penting-penting juga kan, gue kira
dompet atau apa gitu yang ketinggalan", lanjutnya sesaat kemudian
melanjutkan game onlinenya.
"Ah
yaudah deh", jawab Zifa dengan nada yang tampak berat untuk
mengikhlaskannya setelah sebelumnya menyambungkan earphone plug dengan
handphonenya.
---o0o---
Pagi
itu cukup ramai. Semua orang tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Ada yang hanya menunduk bermain gadget sama seperti mereka, ada yang mengobrol

